www.AlvinAdam.com

Berita 24 Kepulauan Riau

Subcribe Here!

Enter your email address. It;s free!

Delivered by FeedBurner

Kisah dari Desa Pengudang, Selamatkan Ikon Bintan dengan ...

Posted by On 01.27

Kisah dari Desa Pengudang, Selamatkan Ikon Bintan dengan ...

BINTAN, KOMPAS.com - Dalam upaya mengonservasi duyung, Dugong & Seagrass Conservation Project (DSCP) Indonesia mengandalkan masyarakat Desa Pengudang untuk mengelola daerah perlindungan padang lamun.

Rabu (25/4/2018), Kompas.com berkesempatan untuk menengok daerah perlindungan padang lamun (DPPL) di Desa Pengudang, Kecamatan Teluk Sebong, Kabupaten Bintan.

DPPL ini merupakan satu di antara empat DPPL di Kabupaten Bintan, Provinsi Kepulauan Riau. Sisanya ada di Desa Berakit, Desa Malang Rapat, dan Desa Teluk Bakau.

Samsul Hidayat selaku perwakilan dari kelompok masyarakat Pengudang berkata bahwa DPPL pertama kali ditetapkan pada 2010 seluas empat hektar dan berada di bawah pengelolaan dua dusun di desa Pengudang.

Baca juga: Lestarikan Dugong untuk Lamun dan Manusia

Penetapan itu berawal dari sosialisasi progra m Trikora Seagrass Management Demosite (Trismasdes) yang dilakukan oleh pemerintah Kabupaten Bintan.

Setelah satu tahun berlalu, padang lamun terpengaruh oleh pengerukan laut untuk pendalaman jalur pelayaran internasional dan sisa dua hektar saja. Dua hektar inilah yang masih ada dan dijaga hingga sekarang.

Samsul berkata bahwa para nelayan Desa Pengudang bekerja sama untuk menjaga agar DPPL tidak diganggu oleh pengunjung, kapal maupun jaring.

Ketika musim selatan tiba, DPPL juga diberi penanda dari kayu untuk mencegah masuknya pengunjung ke area tersebut.

“Kalau dilihat, semak di depannya tidak dibersihkan karena bisa mengundang masyarakat luar untuk turun ke laut dan sampai masuk DPPL. Jadi (di bagian depan) dibiarkan bersemak sehingga enggak ada aktivitas di DPPL selain masyarakat sini,” kata Samsul.

Sebaliknya, keberadaan DPPL juga dinilai Samsul memberi manfaat bagi warga, terutama dalam meningkatkan kekompakkan warga karena menim bulkan rasa ikut memiliki laut.

“Kalau pada jumlah ikan, ada efek tapi enggak terlalu besar. Mungkin karena DPPL ini tidak terlalu besar dan pengawasannya masih kurang,” ujar Samsul.

Sementara itu, Iwan, tokoh masyarakat yang berperan besar dalam mengembangkan pariwisata Desa Pengudang, berkata bahwa Desa Pengudang masuk dalam pariwisata berkelanjutan berkat upaya-upaya konservasi yang telah dijalankan.

Baca juga: LIPI Targetkan Rilis Indeks Kesehatan Mangrove dan Lamun pada 2019

Bahkan, meskipun program pariwisata baru berjalan 6 hingga 7 bulan, Desa Pengudang telah mampu menarik perhatian 500 turis lokal dan internasional untuk datang berkunjung.

Patung dugong di pantai TrikoraKompas.com/Shierine Wangsa Wibawa Patung dugong di pantai Trikora

Sukendi Darmasyah, SPi, MSi dari Direktorat Konservasi dan Keanekara gaman Hayati Laut, Ditjen Pengelolaan Ruang Laut, Kementerian Kelautan dan Perikanan pun sependapat.

“Kalau padang lamun dijadikan destinasi wisata bisa menaikkan ekonominya, sekaligus menjaga kelestarian pariwisata pantai. Lamun bukan cuma dugong (duyung), tapi mimi, penyu, dan ikan-ikan lain. Kalau rusak lamunnya, biotanya pasti akan pindah. Dampaknya pada ekonomi nelayan di sini,” katanya.

Ikon Bintan

Penetapan DPPL merupakan salah satu hasil dari program Trismasdes. Program yang berlangsung dari 2007 hingga 2009 ini merupakan bagian dari konservasi duyung (Dugong dugon) di Bintan.

Duyung yang merupakan hewan rentan punah menurut IUCN dan satwa yang dilindungi dalam Peraturan Pemerintah no 7 Tahun 1999 telah menjadikan Bintan sebagai habitat alaminya. Hal ini tidak lain karena banyaknya padang lamun yang berkondisi sehat di daerah ini.

Siti Kusmiati, Site Manager DSCP Indonesia-Bintan, menjelaskan di kantor Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kepulauan Riau, Selasa (24/4/2018) bahwa dari 13 lamun yang ada di Indonesia, sebanyak 10 hingga 11 lamun ada di Bintan.

Bagi dugong, lamun tidak hanya sekadar makanan, tetapi juga rumah. Terutama pada masa penyapihan, kondisi lamun yang optimal sangat dibutuhkan bagi ibu duyung yang harus menyusui anaknya. Sang ibu dan anak pun tidak akan bermigrasi jauh-jauh dari padang lamun mereka.

Baca juga: Bagaimana Cara Menyehatkan Lamun Kembali?

Menyadari hal ini, masyarakat Bintan pun setuju untuk menjadikan duyung sebagai ikon mereka pada 2010. Mereka membangun gapura, patung dan landmark duyung, serta memproduksi cendera mata dan batik duyung.

Namun, Desa Pengudang ingin melangkah lebih jauh lagi. Disampaikan oleh sekretaris desa, Yanti Mardalia,S.Sos; warga desa ingin membangun dugong center.

Akan tetapi, perencanaan dugong center terkendala lahan karena 80 persen dari luas d esa yang mencapai 54 kilometer persegi telah menjadi milik perusahaan sejak tahun 1990-an.


Berita Terkait

Terdampak Reklamasi, Lamun Sehat di Indonesia Tinggal 5 Persen

Cerita Lamun, Manfaat Lingkungan, dan Datangnya Baronang

Bagaimana Cara Menyehatkan Lamun Kembali?

Terkini Lainnya

BMKG: Aktifnya Aliran Massa Udara Basah Picu Cuaca Ekstrem di Indonesia

BMKG: Aktifnya Aliran Massa Udara Basah Picu Cuaca Ekstrem di Indonesia

Fenomena 26/04/2018, 12:57 WIB Salah Posisi Duduk, Awas Bahaya Varises Mengancam

Salah Posisi Duduk, Awas Bahaya Varises Mengancam

Oh Begitu 26/04/2018, 12:32 WIB Kisah dari Desa Pengudang, Selamatkan Ikon Bintan dengan Menjaga Lamun

Kisah dari Desa Pengudang, Selamatkan Ikon Bintan dengan Menjaga Lamun

Kita 26/04/2018, 11:33 WIB Ini Makanan yang Dikonsumsi Orang Eropa Abad Pertengahan

Ini Makanan yang Dikonsumsi Orang Eropa Abad Pertengahan

Oh Begitu 26/04/2018, 10:45 WIB Ilmuwan India Temukan Cara Lihat Lubang Cacing dengan Teleskop

Ilmuwan India Temukan Cara Lihat Lubang Cacing dengan Teleskop

Oh Begitu 25/04/2018, 21:07 WIB Semut Heroik, Ledakan Diri untuk Lindungi Koloninya

Semut Heroik, Ledakan Diri untuk Lindungi Koloninya

Oh Begitu 25/04/2018, 20:33 WIB Orang Papua Niugini Bikin Belati dari Tulang Manusia, Mengapa?

Orang Papua Niugini Bikin Belati dari Tulang Manusia, Mengapa?

Fenomena 25/04/2018, 20:01 WIB Ingin Punya    Mental Sehat? Konsumsi Buah dan Sayur Mentah!

Ingin Punya Mental Sehat? Konsumsi Buah dan Sayur Mentah!

Kita 25/04/2018, 19:05 WIB Masih Musim Pancaroba, Waspadai Angin Puting Beliung di Indonesia

Masih Musim Pancaroba, Waspadai Angin Puting Beliung di Indonesia

Fenomena 25/04/2018, 18:31 WIB Terobosan Baru, Sepatu Kets dari Daur Ulang Permen Karet

Terobosan Baru, Sepatu Kets dari Daur Ulang Permen Karet

Oh Begitu 25/04/2018, 18:02 WIB Beruang Kutub Pertama yang Lahir di Area Tropis Disuntik Mati Hari Ini

Beruang Kutub Pertama yang Lahir di Area Tropis Disuntik Mati Hari Ini

Fenomena 25/04/2018, 17:35 WIB Peneliti Ungkap Alasan Kondisi Langka Tulang 'Meleleh' Seperti Lilin

Peneliti Ungkap Alasan Kondisi Langka Tulang "Meleleh" Seperti Lilin

Oh Begitu 25/04/2018, 17:00 WIB Sawit Berkelanjutan, Kuncinya Sains dan Teknologi

Sawit Berkelanjutan, Kuncinya Sains dan Teknologi

Oh Begitu 25/04/2018, 16:27 WIB Para Ahli Kembangkan Perawatan Radioterapi Baru untuk Kanker Prostat

Par a Ahli Kembangkan Perawatan Radioterapi Baru untuk Kanker Prostat

Kita 25/04/2018, 12:30 WIB Orang Karibia Dikenal sebagai Kanibal Buas, Ternyata Hanya Mitos

Orang Karibia Dikenal sebagai Kanibal Buas, Ternyata Hanya Mitos

Fenomena 25/04/2018, 11:19 WIB Load MoreSumber: Google News | Berita 24 Kepri

Next
« Prev Post
Previous
Next Post »